Donny Vincent Soenjoto Tedjo

1. PRIBADI YANG RAMAH DAN TERBUKA
Bapak Donny Vincent Soenjoto Tedjo adalah salah seorang Guru di Sentra Evangelisasi Pribadi (SEP), beliau juga salah satu pendiri SEP yang dulu bernama Kursus Evangelisasi Pribadi.

Di tengah kesibukan beliau yang padat, wawancara dengan beliau akhirnya terlaksana setelah appointment yang meleset sekitar 30 menit karena kesibukan penulis. Sapaan penulis di pagi itu dijawab oleh beliau salam selamat pagi, dan : ‘sik-sik sandale ting slengkrah.’ Sambil merapikan sandal-sandal di depan pintu yang memang posisinya agak tidak rapi. Dalam hati penulis berpikir beliau pasti orang yang tertib, teratur, rapi dan serius.

Kesan tersebut diperkuat ketika masuk ke dalam rumah beliau, banyak barang tertata rapi di dalam almari kaca; juga banyak buku berderet rapi di dalam almari.

2. PERJALANAN IMAN MENUJU KRISTUS

Beliau lahir di desa Kencong ( Jember ), di tengah keluarga bukan penganut agama Katolik. Orang tuanya menganut paham Kong Hu Cu, sehingga sejak usia sekolah beliau disekolahkan di Sekolah Tionghoa. Masuk sekolah pukul 12.00 siang hari bukan sesuatu yang mudah untuk dijalani oleh Pak Donny ( panggilan akrab beliau ). Karena seusia anak-anak kelas 1 SD, pukul duabelas siang adalah waktu tidur siang. Selain itu siswa kelas satu dicampur dengan siswa kelas dua sehingga membingungkan ketika pelajaran mulai berlangsung karena saling terganggu. Maka beliau hanya bertahan 2 bulan saja mengikuti pelajaran di sekolah tersebut.

Rupanya peristiwa tersebut menjadi titik awal perjalanan beliau menuju perkembangan iman ke arah Kristus. Ibunya mempunyai kenalan seorang Guru di Sekolah Katolik, dan melalui Guru inilah beliau diterima di sekolah SDK Maria Fatima II, Jember.

Bersekolah di sekolah inilah jalan menuju Kristus semakin terbuka ketika beliau bertemu dengan Pastor Kortink O’Carm (alm). Yang selalu akrab dengan anak-anak.

Letak sekolah berdekatan dengan gereja, beliau sering melihat teman-temannya ketika tiba di sekolah selalu masuk ke dalam gereja 5 sampai 10 menit, hal tersebut membuat beliau penasaran dan bertanya apa yang mereka lakukan.
Setelah tahu bahwa teman-temannya berdoa di dalam gereja dengan kalimat pendek ‘ Tuhan saya datang, saya mau belajar,’ beliau tertarik untuk ikut berdoa di dalam gereja, sejak saat itu beliau mulai ikut teman-temannya ke gereja dulu untuk berdoa setiap tiba di sekolah.

Ketika duduk di kelas III SD, beliau mendapat kesempatan untuk bekerja di gereja dengan membagi brosur, bersih-bersih gereja atau mengatur parkir kendaraan saat Misa, juga ikut bergabung di Putra Maria selama 3 tahun, baru kemudian ikut Legio Maria. Melalui pengajaran dan teladan guru-guru di sekolah SDK Maria Fatima II yang dikepalai oleh Suster M.Serafine itulah yang akhirnya membawa kehidupan pak Donny benar-benar memilih Kristus dengan menerima Sakramen Baptis ketika duduk di kelas VI SD. Dipilihlah Vincentius sebagai nama Baptis oleh Suster M.Serafine.

3. SATU SETENGAH TAHUN TERBARING KARENA SAKIT

Bapak yang berputra satu tinggal di Surabaya, dan berputri tiga orang yakni ( putri pertama dan ketiga sedang studi di luar negeri ) pernah mengalami masa yang paling sulit di dalam kehidupannya. Beliau menderita sakit tulang punggung (HNP) satu setengah tahun lamanya.

Didampingi isterinya ibu Vincentia, dijelaskan bahwa sakit beliau dimulai ketika membantu mengangkat Aquarium yang cukup besar sambil membungkuk sehingga ada syaraf yang terjepit di tulang belakang di posisi L5 dan S1 ( istilah kedokteran ).

Dua belas dokter Spesialis, 7 orang ahli tusuk jarum dan Sin She, 6 orang ahli pijat, pernah dikunjungi, tetapi belum ada kesembuhan, beliau tidak pernah mau opname, selama sakit beliau menjalani perawatan di rumah. Berat badan turun drastis dari 84 kg menjadi 72 kg. Pernah keracunan karena ramuan obat, timbul bintik-bintik merah mulai jari kaki sampai perut. Karena itu tidak bisa tidur sedetikpun selama 5 hari 5 malam.

Pernah seluruh punggung ditusuk dengan jarum suntik oleh dokter, seluruh kepala ditusuk jarum lalu dialiri setrum. Sangat menderita tapi demi untuk sembuh apa saja dijalani asal bukan klenak-klenik. Begitu putus asanya beliau mengatakan, :’Saya seperti mayat hidup, hanya bisa berbaring saja, saya minta mati saja, tidak tahan atas sakit dan penderitaan ini.’

Sementara itu setiap teman-teman yang datang selalu mendoakan dan prihatin, yang setia datang saat itu Bp. Edi S. Tanpa sepengetahuan beliau, mereka mengatakan bahwa beliau sudah tidak ada harapan lagi. Juga saudara beliau dan beberapa diantaranya karena tidak tega melihat kondisi beliau saat itu sampai mencucurkan airmata. Pada 24 Desember 1989, beliau dipaksa oleh keluarga dan teman-temannya untuk opname di RKZ.

Penderitaan tidak berhenti disitu saja. Setelah proses pemeriksaan lab, foto kontras yang prosesnya sangat menyakitkan karena harus mengambil cairan sumsum tulang belakang diganti dengan cairan warna agar di foto terlihat kontras. Foto kontras yang pertama salah suntik, sakitnya 3 hari 3 malam dan tidak bisa tidur. Gagal foto kontras di citiscan, hasilnya diputuskan oleh dokter bahwa beliau harus menjalani operasi. Selain dukungan doa dari teman dan kerabat yang bezuk setiap hari (yang setia bezuk saat itu Bp/Ibu Tjokro). Saat itu beliau ditawari oleh suster RKZ untuk berdoa Novena Hati Kudus Yesus setiap pagi jam 8 selama 8 hari. Tapi beliau lakukan setiap jam 8 pagi dan jam 8 malam, sampai selama 3 tahun.

Dengan bekal keberanian serta asa yang tersisa, beliau dan keluarga menyetujui tindakan operasi itu, tetapi memang rencana Tuhan tidak bisa ditebak oleh manusia. Tiga hari menjelang operasi dilakukan, dokter yang menangani pergi ke luar negeri, sehingga tindakan operasi terpaksa ditunda sampai dokter pulang kembali ke Indonesia. Sepulang dari luar negeri dokter mengatur kembali jadwal untuk operasi, tetapi setelah melihat hasil foto kontras dokter menyarankan foto diulang karena ada kesalahan teknis. Padahal kata beliau proses penyuntikan itu sangat luar biasa sakitnya karena punggung harus dalam posisi ditekuk untuk mencari rongga antar ruas tulang belakang.

Akhirnya Mujizat terjadi melalui dukungan doa teman-teman dan doa Novena Hati Kudus Yesus. Hasil foto kedua diperiksa, dokter menyatakan tidak perlu dilakukan tindakan operasi karena syarafnya sudah kembali seperti bayi.

4. HIDUP YANG DIPERSEMBAHKAN KEPADA TUHAN

Setelah disembuhkan dan beliau percaya Tuhan melakukan semuanya, hanya satu kalimat ucapan syukur yang keluar dari mulut pak Donny yaitu : ‘Hidup terserah Tuhan maunya apa?’

Maka mulailah beliau terjun ke dalam bidang kerohanian dan pelayanan. Ketika BPK PKK Surabaya mengadakan kursus Evangelisasi, beliau salah seorang yang ikut di dalam kursus pertama tersebut. Kursus dipimpin oleh Romo Sugiri SJ dan Suster Immaculata OSU di Bintang Kejora Pacet. Sejak saat itu beliau seringkali mendapat tugas sebagai Panitia beberapa acara retret.

Beliau juga orang pertama yang menjadi Kepala Kursus Evangelisasi Pribadi yang saat ini telah berkembang menjadi SEP ( Sentra Evangelisasi Pribadi ) St. Yohanes Penginjil Surabaya BPK PKK Surabaya. Pelayanan yang diberikan mulai dari membawa Firman, KRK, membimbing retret sampai ke mengajar Evangelisasi. Hal ini beliau lakukan bukan hanya di Surabaya saja melainkan sampai ke luar kota atau ke luar pulau seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan yang terakhir Jayapura, Papua.

Sampai saat ini beliau adalah salah satu Guru di SEP. Dimata para muridnya beliau adalah orang yang semangat, humoris, membawa suasana kelas menjadi hidup dan mengajar melalui pengalaman hidupnya, sehingga para murid tidak pernah sempat merasa mengantuk.

Ketika ada permintaan untuk membawakan Firman beliau mengatakan bahwa beliau lebih menyukai dalam bentuk topikal dibandingkan perikop, karena penjabarannya bisa lebih luas. Wawancara ditutup dengan konfirmasi bahwa beliau memang seorang yang serius, yang penulis gambarkan di awal tulisan ini, setelah melihat bagaimana beliau mempelajari Kitab Suci dan membuat catatan hampir dari setiap judul bacaan dengan tulisan tangan yang sangat rinci dan rapi.

Beliau mulai menulis sejak tahun 1986 dan masih terus menulis sampai saat ini. Semoga sebentar lagi akan terbit buku hasil tulisan beliau dalam mempelajari dan mendalami Alkitab.
Semoga !

(ANS/Juli 2008)