Semuanya Diawali dengan Allah

“Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada dibumi, yang kelihatan dan tidak kelihatan, baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintahan maupun penguasa, segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” ( Kol. 1:16 ).

Sudah pernahkan kita merenungkan ayat tersebut sehingga kita dapat memperoleh makna apa tujuan hidup kita? Untuk apa kita diciptakan ? Apa yang harus kita lakukan ketika kita berada ditempat kita sekarang ini? Seringkali kita tidak sadar, mungkin juga lupa bahwa kita dilahirkan oleh tujuanNya dan oleh karena itu tujuan hidup kita diciptakan olehnya adalah untuk tujuanNya.
Hidup bukan bersumber kepada diri sendiri, melainkan bersumber kepada Allah, karena Dialah sumber kehidupan itu sendiri.Tujuan hidup bukan sekedar mengejar prestasi, atau ketenangan pikiran karena merasa sudah menikmati segala kesenangan duniawi, atau kebahagiaan karena sudah meraih segala yang diimpikan, atau juga karier yang terus meningkat karena mengejar ambisi demi gengsi.

Mencari tujuan hidup seringkali dan pada umumnya mulai dari titik awal yang adalah diri sendiri. Pertanyaannya berpusat pada diri sendiri juga seperti : akan menjadi apakah aku kelak? Apakah impian masa depanku? Untuk maksud itu, apa yang harus aku lakukan, apa sasaran yang harus aku capai? Tetapi sebenarnya itu semua tidak pernah dapat menyingkapkan tujuan hidup kita. Di dalam buku-buku, seminar atau film pun tuntunan yang diberikan semuanya berpusat pada diri sendiri. Menggali potensi dari diri sendiri saja tidak akan pernah menemukan tujuan hidup dan makna hidup sejati.

“Bahwa di dalam tanganNya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia” ( Ayb 12:10 ).

Kita bukanlah pencipta diri kita sendiri, kita tidak pernah tahu apa tujuan atau maksud kita diciptakan kalau kita tidak mencarinya di dalam diri Allah pencipta kita. Seperti sebuah benda atau barang yang bukan kita pembuatnya, maka kita tidak pernah tahu gunanya, tujuannya, tanpa panduan sebuah buku atau tanpa menanyakannya kepada si pembuat. Oleh karena kita diciptakan oleh Allah, maka tujuan hidup kita harus di awali dari Allah, bersumber pada Allah, karena kita diciptakan oleh dan untuk Dia. Hanya di dalam Allah kita dapat menemukan asal usul kita. Kita berasal dari debu, tetapi kita memiliki identitas sebagai anak Allah. Makna hidup kita adalah menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran. Tujuan hidup kita adalah hidup damai sejahtera, dan kita menjadi penting karena kita harus menjadi garam dunia, untuk meraih masa depan yaitu kehidupan kekal. Semua ini dapat kita temukan di dalam Kitab Suci. Oleh karena itu hidup berarti membiarkan Allah memakai hidup kita untuk tujuanNya, bukan memanfaatkan Allah untuk aktualisasi diri sendiri yang berarti memutarbalikkan alam. Pasti gagal karena kita diciptakan oleh Dia untuk tujuanNya, untuk kepentinganNya.

“Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera”
( Rm. 8:6 ).

Banyak buku, bahkan buku-buku Kristen yang menjelaskan tujuan hidup yang bersumber pada diri sendiri. Ini adalah buku-buku untuk menolong diri sendiri. Pertanyaan di dalamnya juga seputar diri sendiri seperti : apa yang menjadi impian kita, apa nilai diri kita, apa target kita, apa kelebihan kita? Kita harus memiliki tujuan yang tinggi ” Thing Big ” melalui komitmen, disipilin dan konsisten.

Hal ini akan sukses besar bila kita konsentrasi dan focus untuk mencapainya. Tetapi kesuksesan itu adalah kesuksesan mencapai sasaran pribadi dalam ukuran dunia, tetapi kita tetap tidak tahu tujuan hidup kita untuk apa kita diciptakan Allah.

“Karena barangsiapa mau meyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” ( Tim. 2:7 ).

Menolong diri sendiri sama sekali tidak menolong, tetapi mengurbankan dirilah caranya untuk menemukan diri sejati kita. Menyerahkan diri bagi kehendak Allah berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri. Lalu bagaimana kita tahu kehendak Allah ? Ada dua pilihan yaitu : spekulasi, menebak kira-kira menurut kita apa kehendak Allah itu. Seorang Guru Besar di sebuah universitas terkemuka di luar negeri pernah melempar pertanyaan kepada 250 filsuf, ilmuwan, penulis dan cendekiawan, tentang makna hidup. Jawaban mereka: sebagian memberi tebakan terbaik, sebagian baru mencari, sebagian lagi tidak memiliki petunjuk. Pilihan kedua adalah petunjuk, tanyakan kepada pencipta kita yaitu kepada Allah ! Allah telah menyatakan tentang kehidupan di dalam FimanNya. Di dalam Alkitab kita temukan tujuan Allah bagi kehidupan kita; mengapa kita hidup, bagaimana kehidupan berjalan, apa yang harus dihindari, apa yang bisa terjadi di masa depan. Semua ini tidak akan pernah ditemukan di dalam buku filsafat atau buku-buku untuk menolong diri sendiri.

“Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita” ( 1 Kor. 2 : 7 ).

Allah bukan sekedar titik awal kehidupan. Dia adalah sumber kehidupan itu sendiri. Kita dapat temukan tujuan hidup kita di dalam Firman Allah, bukan melalui hikmat dunia. Bangunlah kehidupan kekal diatas kebenaran kekal dan ini bukan psikologi umum, motivasi sukses, atau kisah-kisah yang dapat memberikan inspirasi.

“Aku katakan di dalam Kristus, karena di dalam Dialah kita mendapat bagian yang dijanjikan.Kita yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya” ( Ef. 1 : 11 ).

Ada tiga wawasan di dalam ayat ini :
1.Kita menemukan identitas dan tujuan hidup sejati kita melalui hubungan yang akrab dengan Kristus
2.Allah memikirkan kita jauh sebelum kita pernah memikirkannya, tujuanNya bagi kehidupan kita telah ada sebelum kita ada. Kita boleh memilih apa saja di dunia ini, tetapi kita tidak pernah dapat memilih tujuan hidup kita, karena Allah pencipta kita.
3.Tujuan hidup kita sesuai dengan tujuan yang jauh lebih besar, yang menyangkut alam semesta yang telah dirancang Allah bagi kekekalan.

Simpulannya adalah :
1.Tujuan hidup kita bukan semata-mata mengenai diri kita sendiri, atau tentang diri kita sendiri
2.Tanpa Allah hidup tidak bisa dipahami
3.segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia ( Kol. 1 : 16 )
4.kita dapat menemukan tujuan hidup kita dengan menanyakannya kepada Allah

Untuk direnungkan : kendati ada segala promosi di sekitar kita, bagaimana kita bisa mengingatkan diri sendiri bahwa kehidupan sebenarnya adalah mengenai hidup untuk Allah, bukan bagi diri sendiri.

Anastasia Maria April ’08
Sumber : Buku PDL I